Edisi habis baca2 status FB adik cewek, sosok yang kira2 kayak gini: kerja/cari uang untuk makan sepuasnya, jalan2 sesukanya; soal nabung, pasangan hidup, masa depan ya sambil dilihat dan dijalani.
Hidupnya sungguh santai dan bebas.
Kerja, dapat gaji, mau makan ya makan, mau jalan ya jalan, mau ke mana ya ikut saja kaki pengen ke mana.
Tiap kali mami ribut tentang bagaimana dan siapa yang akan menanggung beliau di masa tua, adikku ini tiap kali diajak diskusi hal ini jawabannya selalu sama: saya juga sebenarnya peduli sama mami, lagi usaha demi mami juga.
Kontradiktif komen dan kehidupan yang dijalani? Begitulah yang kira2 aku rasakan, gemas, tapi tiap kali diajak ngobrol tentang hal ini, dibilang aku jahat, keras.
Kadang aku iri sama adikku ini dalam hal menjalani hidup yang begitu bebas dan santai, kayak ngga pernah dan ngga perlu mikir tentang tanggung jawab baik terhadap diri sendiri maupun keluarga.
Tapi kadang aku jadi mikir, apa benar yang adikku bilang: aku keras?
Sejak kecil aku belajar dan sekolah/kuliah untuk dapat ranking, IP bagus. Dengan harapan orang tua senang, bangga, dan tentunya bisa dapat kerja yang baik untuk bisa mandiri secara kita datang dari keluarga biasa2; orang tua kerja keras untuk menafkahi anak2 dan sekolahkan kita sampai kuliah.
Lulus kuliah syukurlah bisa langsung mandiri dengan kerjaan yang akhirnya memberikan banyak hal: karir, ilmu, jalan ke banyak negara, dan belajar tentang manusia, hidup.
Setelah semua usaha ini, apa aku termasuk keras terhadap diri sendiri dan orang lain?
Satu hal yang pasti, no regret.
Apa yang aku lalui dan alami, itu yang sudah ngajari dan membekali aku sampai sekarang ini.
No comments:
Post a Comment